CBS News melaporkan, ia bersembunyi dalam sebuah perahu yang tertutup terpal di halaman belakang di sebuah rumah di Watertown, pinggiran kota Boston AS, Jumat (19/4/2013) malam. Ia kepergok bersembunyi saat pemilik rumah pergi keluar untuk merokok. Ia melihat ceceran darah di perahu itu. Saat terpal dibuka, terlihat Dzhokhar tengah tergolek lemas dalam kondisi luka parah dan berlumuran darah.
Mendapat laporan dari pemilik rumah, FBI kemudian dalam waktu singkat langsung menyergap dan mengepung lokasi persembunyian. Dzhokhar diperintahkan untuk menyerah, namun ia bergeming dan menolak. FBI kemudian menembakkan flash-bangs (semacam granat yang mengeluarkan cahaya silau).
Dalam kondisi demikian, Dzhokhar mau tidak mau harus keluar dari dalam perahu. Saat itulah ia diringkus petugas yang bersenjata lengkap. Belakangan diketahui bahwa ia menderita luka tembak di bagian leher dan paha.
Terlihat darah menggenang di dalam perahu. Diperkirakan mahasiswa penerima beasiswa Cambridge itu mendapat luka itu sekitar 20 jam sebelum ditemukan. Pada Kamis (18/4/2013) sempat terjadi baku tembak antara polisi dengan dia dan kakaknya yang kemudian tewas, Tamerlan Tsarnaev (26 tahun).
Baku tembak terjadi saat kedua bersaudara asal Rusia itu membajak sebuah mobil. Polisi kemudian mengejarnya dan terjadilah tembak menembak. Mereka sempat melemparkan granat ke arah polisi. Kemungkinan, baku tembak itulah yang melukai Dzhokhar.
Dalam pengejaran bomber itu, sebanyak 1.000 petugas dikerahkan. Mulai dari petugas FBI, polisi, gegana, SWAT, dan pasukan antiteror lain. Selain itu dikerahkan pula robot untuk mencari bom yang kemungkinan mereka tanam.
Dzhokhar kini ditahan dan tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Polisi dan FBI belum memperoleh informasi darinya apakah ada pihak lainnya yang terlibat dalam pengeboman tersebut. [tjs]
Sumber : www.inilah.com


0 komentar:
Posting Komentar