INILAH.COM, Surabaya – Ribuan Bonek Mania (julukan
suporter Persebaya) mendatangi kantor Walikota Surabaya dan Pengurus
Provinsi Jawa Timur untuk memprotes hasil dari Kongres Luar Biasa (KLB)
PSSI 17 Maret 2013.
Tim legendaris Persebaya Surabaya
terpecah pada 2010 lalu setelah sebagian pengurusnya mengusung bendera
Persebaya 1927 untuk tampil di liga ilegal yang hanya bertahan setengah
musim, yakni Liga Prima Indonesia (LPI). Sebagian pengurus lain tetap
mempertahankan Persebaya Surabaya di Divisi Utama di bawah pengelola
resmi kompetisi PSSI, PT Liga Indonesia.
Saat Djohar Arifin Husin
terpilih sebagai ketua umum menggantikan Nurdin Halid, PSSI mengharamkan
ISL serta divisi turunannya di bawah PT Liga Indonesia kemudian membuat
Liga Primer Indonesia (IPL) di bawah pengelolaan PT Liga Prima
Indonesia Sportindo (LPIS). Persebaya 1927 berpindah ke IPL sementara
Persebaya Surabaya tetap di Divisi Utama.
Masalah muncul seputar
hak keikutsertaan, setelah PSSI kembali mengakui kompetisi di bawah PT
Liga Indonesia serta berniat menggabungkan kompetisi di bawah PT Liga
dengan kompetisi di bawah LPIS.
Rabu (10/4/2013) lalu, Wakil Ketua
Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti menengaska bahwa Persebaya yang asli
adalah Persebaya yang bermain di Divisi Utama, namun kubu Persebaya 1927
tak terima dan melapor ke Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo.
Mendengar
keputusan tersebut, Bonek pun berdemo di depan kantor Walikota Surabaya
dan Pengurus Provinsi Jawa Timur. Mereka memprotes hal itu.
"Kami
melancarkan aksi demo ini secara damai. Kami ingin melawan atas ketidak
puasan kami. Sebanyak 1000 Bonek ikut serta melakukan aksi menuntut
kejelasan Persebaya yang merupakan aset bagi warga Surabaya," ujar
Koordinator Bonek, Andi Penci kepada wartawan, Senin (15/4/2013).
Andi
menilai Persebaya 1927 bukanlah tim kloningan. Pasalnya Andik
Vermansyah saat ini bermain di kompetisi resmi PSSI di Indonesian
Premier League. " Saya heran kenapa Persebaya kami dianggap palsu,"
keluhnya.
Sumber : www.inilah.com


0 komentar:
Posting Komentar