INILAH.COM, Jakarta - Kemenko Perekonomian menjelaskan defisit
perdagangan antara Indonesia dengan ASEAN karena perizinan ekspor yang
tidak cepat.
"Paling penting ini lebih rileks evaluasi perizinan ekspor menjadi 8 hari. Sekarang 12 hari," ujar Edi Putra Irawadi, Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Industri di Jakarta, Rabu (10/4/2013).
Menurut Edi, ini adalah hal yang sangat memberatkan maka tidak salah kalau defisit terus terjadi. Makanya lambatnya perizinan dipercepat segera. "Ini pembebanan dan menjadi lambat karena banyak perizinan kalau untuk konsumsi fine," katanya.
Untuk memperkuat ekspor agar surplus di tingkat ASEAN, Indonesia perlu memperkuat makanan. "Kita kuat makanan, pakaian jadi dan kimia kita kuat serta industri pengrajin," ungkap Edi.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia defisit dengan Thailand, yaitu sebesar US$861,8 juta. Defisit neraca perdagangan Indonesia yang paling besar adalah dengan China, yaitu sebesar US$1.239,3 juta. [hid]
"Paling penting ini lebih rileks evaluasi perizinan ekspor menjadi 8 hari. Sekarang 12 hari," ujar Edi Putra Irawadi, Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Industri di Jakarta, Rabu (10/4/2013).
Menurut Edi, ini adalah hal yang sangat memberatkan maka tidak salah kalau defisit terus terjadi. Makanya lambatnya perizinan dipercepat segera. "Ini pembebanan dan menjadi lambat karena banyak perizinan kalau untuk konsumsi fine," katanya.
Untuk memperkuat ekspor agar surplus di tingkat ASEAN, Indonesia perlu memperkuat makanan. "Kita kuat makanan, pakaian jadi dan kimia kita kuat serta industri pengrajin," ungkap Edi.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia defisit dengan Thailand, yaitu sebesar US$861,8 juta. Defisit neraca perdagangan Indonesia yang paling besar adalah dengan China, yaitu sebesar US$1.239,3 juta. [hid]
Sumber : www.inilah.com

0 komentar:
Posting Komentar